I'm writing about...

Kerja Melampaui Batas, Ikhlas atau Dibayar Tuntas?

Tak sengaja sambil istirahat melepas lelah, iya kemarin saya izin tidak masuk bekerja karena sakit. Rahang sebelah kanan nyeri ditambah dengan sakit kepala yang hebat, anehnya hanya area kanan saja. 

Sepulangnya dari dokter saya memutuskan istirahat di kamar sambil nonton sebuah film keluarga yang dibintangi oleh Fedi Nuril. Eits saya ga ingin bahas tentang Fedi Nuril spesialis pemeran poligami atau cuitannya di "X" yah xixixi. 

Tapi saya akan bahas tentang hal menarik yang saya soroti dari film yang berjudul "48 Jam Untuk Indah", sebagai HRD yang saya soroti adalah bagaimana Jono yang dilakoni oleh Fedi Nuril bekerja di pabrik.

Aturan pabrik tempat bekerjanya Jono sangat ketat, telat sedikit security-nya tidak membiarkan Jono masuk akan tetapi jika ada "tip" baru security membolehkan masuk area pabrik. *dih budaya kita beginikah? akal-akalan banget ya*.

Setelah memasuki area pabrik, Jono bergegas ganti baju lalu ia memasuki area pabrik. Apabila memperhatikan pekerjaan Jono ini ditarget. Karena ada satu scene rekan kerja sebelahnya mengalami kaku tangannya, Jono berbaik hati memberikan output miliknya kepada rekan sebelahnya. *Sungguh Jono berhati mulia*...namanya juga PILEM!😂.

Dan akhirnya Jono memutuskan lembur...iya lembur...bekerja melampaui batas jam kerja. Konfliknya yang terjadi, saat pembagian upah Jono tidak mendapatkan hak lemburnya. Nah ini menarik kan untuk saya bahas kali ini.

Rasain lu Jon, pake lembur segala sih 😂😂😂. 

Kerja Melampaui Batas, Ikhlas atau Dibayar Tuntas?

Ketika Jam Kerja Melampaui Batas

Kasus yang terjadi pada Jono ini merupakan hal yang lumrah terjadi. Sudah capek meluangkan waktu demi target yang melebihi tapi kok ga dapat upah lemburnya? hanya mendapat cacian? iya di film pun Jono dimarahi oleh yang membagikan upah. 

Namun yang perlu saya tekankan juga nih si Jono lembur bekerja diluar jam? apakah ada persetujuan dari atasannya? Karena jika lembur atas keinginan sendiri tanpa persetujuan atasan maka yang terjadi seperti yang dialami oleh Jono TIDAK DIBAYAR UPAH LEMBURNYA hanya mendapatkan hikmah😂.

Karyawan ga bisa dong, ujug-ujug pengen lembur ah karena sebagaimana yang kita ketahui upah lembur itu dihitung besar loh ada pengalinya apalagi jika lembur dihari libur si karyawan ulala menyala lemburan.

Back to aturan lembur...

Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. KEP-102/MEN/VI/2004, kerja lembur hanya dapat dilakukan atas dasar perintah tertulis dari pengusaha dan persetujuan tertulis dari pekerja yang bersangkutan. Dokumen ini biasanya disebut Surat Perintah Kerja Lembur (SPKL).

Di tempat saya bekerja dikenal dengan SPL (Surat Perintah Lembur), dibuat pengajuannya melalui sistem, namun ada beberapa posisi yang diajukan secara manual melalui SPL. Sehingga tidak melalui sistem.

Lalu selain hitung-hitungan lembur yang fantastis, bombastis tersebut perusahaan juga diminta untuk menyediakan makanan dan minuman bergizi dengan kandungan minimal 1.400 kalori yang diberikan bila lembur diatas 3 jam atau lebih. 

Nah saya di sini pun demikian, saya cek nih lemburnya kapan serta jumlah jam-nya agar karyawan diberikan makanan/minuman berkalori tersebut. 

Biasanya saya akan berikan sejumlah makanan/minuman berkalori tersebut sesuai dengan pengajuan yah. Dulu stock tapi berhubung ketahanan makanan/minumannya yang sebentar sehingga saya sudah tidak mau stock lagi.


Realita di Lapangan Bekerja Melampaui Batas: Ikhlas atau Dibayar Tuntas

Realita di Lapangan Bekerja Melampaui Batas: Ikhlas atau Dibayar Tuntas?

Jono adalah salah satu contoh realita di lapangan, lembur inisiatif sendiri ya mungkin karena tadi kasusnya kebaikan Jono yang malah memberikan output-nya ke orang sementara dia keteteran alih-alih dapat uang lembur malah capek melampaui batas.

Beberapa posisi seperti Jono memang memiliki target harian sehingga kalau pandai manage waktu kerja dan istirahat ga mungkin juga sampe kerja melampaui batasnya.

Ada beberapa karyawan yang konon memang juga sengaja banget dah disaat jam kerja dia ke sana kemari, ngobrol ngalor ngidul giliran jam pulang malah kerja. Coba deh yang begini tuh selain rugiin operasional perusahaan (listrik yekan? kalau malam butuh penerangan, belum lagi yang lain-lain) juga terindikasi karyawan yang KELIATANNYA sih Pengen NUNJUKIN DEDIKASI TINGGI dalam arti yang negatif. 

Baca lagi: Good Looking, Good Skill atau Good Attitude di Dunia Kerja?

Masalahnya kalau pas jam kerja dia juga ikut sibuk kerja lalu masih belum beres mutusin untuk lanjutin sampe selesai nah ini mah yang karyawan wajib diacungi jempol. Lah ini tujuannya cuma "mencari muka" duh jauh-jauh dari rekan kerja yang demikian.

Berdoa juga supaya punya atasan yang menilai cerdas mana nih bawahannya kerja cerdas mana yang cuma cari muka lewat lembur karena nutupi kemalasannya pas jam kerja. Huft...

Btw saya sendiri termasuk yang jika belum selesai maka akan saya selesaikan hari itu juga. Biar apa? biar tenang karena besoknya kalau ditunda maka makin buanyak kerjaannya. Suka sakit kepala kalau udah tumpuk-tumpukan jadi memanfaatkan waktu yang ada saja.

Ciyeh loyalitas tanpa batas nih? yakin ikhlas?😂. *InsyaAllah yah Ikhlas*

Bagi saya sih ikhlas yah karena memang sudah diulti sejak awal bekerja untuk grade tertentu maka TIDAK DIBAYAR LEMBUR. Kebijakan di perusahaan saya demikian, berlaku untuk teman-teman yang grade staff ke bawah.

Recruiter Wajib Sounding Terkait Kerja Melampaui Batas

Ngomongin lemburan, saya jadi inget di tempat saya bekerja yang dulu ya. Sewaktu saya aktif sekali merekrut karyawan.

Jadi ada salah satu posisi yang mana turnover-nya bisa dikatakan tinggi. Sehingga saya bisa sering banget mencari kandidat untuk posisi tersebut. 

Usut punya usut setelah dikorek mengapa posisi tersebut menempati posisi turnover tinggi dikarenakan load pekerjaannya yang luar biasa. Bahkan bisa loh si karyawan sampe ga pulang-pulang definisi bekerja melampaui bumi dan isinya batas.

Dengan kondisi demikian ternyata kebijakan perusahaan adalah TIDAK MEMBAYARKAN LEMBUR. oke fix akar masalahnya ditemukan!

Ya temans bisa bayangin aja, sampe ga pulang gitu ga dibayar lembur hanya ucapan TERIMA KASIH 😂. So sebagai recruiter saya akan sounding kepada pelamarnya dari awal tentang beban kerjanya, tentang aturan lemburnya sehingga mereka para pelamar tidak merasa dibohongi dan recruiter juga lega dong tidak ada dusta diantara kita.

"Apabila Anda diterima, bersedia bekerja under pressure? tidak dihitung lembur?"

Jika jawabannya "Ya bersedia" bungkus mari dilanjutkan proses tanda tangan kontrak kerja. Namun jika dari awal pelamar sudah tidak bersedia maka mencari lagi deh kandidat yang mau.

Ketidakjujuran recruiter akan budaya perusahaan tentang lembur bisa menyebabkan kecewa dan turnover yang tinggi!

Recruiter Wajib Sounding Terkait Kerja Melampaui Batas

***

Well, temans demikian sekelumit yang bisa saya bagikan. Berawal dari nonton film si Jono berujung bisa cerita panjang tentang hak karyawan seputar lemburan. 

Maka pesan saya bagi siapapun yang mampir ke sini kemudian sedang ada proses interview kerja, hal lemburan macam gini boleh loh ditanyakan kadang ada juga recruiter-nya yang ga mau kasih tahu diawal, biar apa? biar si pelamar mau tapi nanti ujungnya bisa MUNTABER (mundur tanpa berita) rugi waktu lagi deh kalau begini.

Jadi mending sampaikan diawal dan sebagai pelamar berhak pula menanyakan tentang haknya dalam mendapatkan lembur.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat ya!

Komentar

  1. Iya ya kasihan juga kalau lembur tapi dikasih terima kasih
    Tapi memang realitanya ya ada juga yang lembur tapi aslinya itu ngerjain pekerjaan yang sebenarnya bisa tuntas saat masuk jam kerja
    Cuma kebiasaan ngobrol, ngerumpi jadi habis waktu
    Akhirnya lembur yang dianggap punya dedikasi ternyata sebenarnya malas yang dinormalisasi lembur

    BalasHapus
  2. Perkara lembur kerja kembali pada kejelian seorang atasan/leader melihat secara detail apakah pekerjaan yang dilakukan diluar jam kerja memang benar dibutuhkan atau si karyawan itu kurang produktif dalam bekerja. Semoga dengan tulisan ini banyak insan sadar bahwa bertanggung jawab dengan waktu itu penting, karena bagaimanapun semuanya kembali pada insan itu sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mba..pentingnya atasan jg bisa atur SDM di bagiannya biar ga hny sekedar lemburin krn ganti org tp prioritas untuk menghasilkan jg sebanding outputnya

      Hapus
  3. Ooh ternyata kalau lembur atas inisiatif sendiri malah gak dapat uang lembur ya. Makasih infonya Kak.

    Aku malah penasaran akan filmnya (jujur udah jarang nonton film Indonesia). Aneh aja . biasa' kalo telat kerja kan ada aturan potong gaji, ini malah bisa nyogok petugas keamanan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba ga bisa harus approval atasan makanya ada SPL

      Hapus
  4. Dalam suatu masa. saya juga pernah di sebuah PT di sebuah kawasan Industri . hanya saya masih beruntung karena alau lembur, tetap dihitung sesuai peraturan. Makanya semua semangat kalau ada lembur, artinya penghasilan bertambah. Hanya banyak yang lembur karena target belum tercapai atau apa ya istilahnya dulu. Jadi memang tidak dibayar. Ada juga yang lembur berdasarkan loyalitas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya memang wajib dibayar tp sesuai SPL-nya Kak..klo bukan krn target mah buat apa dibayar hehehe

      Hapus
  5. Saya dulu sering bekerja lembur tapi nggak dibayar lemburnya. Bahkan hari minggu masih stand by menjawab kebutuhan bos. Dulu malah mikirnya asyik-asyik aja sih, toh saya suka bekerja.
    Cuman saya nggak bisa tolerir gaji telat sehari doang, saya teriak-teriak ke bos, dan bos pasti ngerti.
    Tapi emang sih, sebaiknya lembur itu dibayar.
    Kalaupun nggak dibayar dan ikhlas, yakin aja pasti hasil yang kita dapat sesuai. Dibayar Allah.
    Kalau nggak ikhlas dan emang di kantor kek gitu, ya udah jangan kerja di situ biar nggak sakit hati mulu.
    Dan perusahaan memang wajib jujur masalah ini.
    Kalau dulu, emang bos saya udah bilang sejak awal, bahwa kadang butuh buat lembur, eh kok ternyata bukan kadang tapi sering, wkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. krn ada kebijakan spt di tempatku bekerja lembur berlaku untuk level staf ke bawah sementara diatasnya tidak dibayarkan jika lembur..artinya klo kerjanya melampaui batas kyk mba dianggap loyalitas

      Hapus
  6. perlunya bertanya dan menjelaskan mengenai lemburan ke calon karyawan
    dulu aku termasuk rajin lembur
    seiring waktu, dan entah lupa karena apa, sekarang kalau lembur terutama divisiku, ga ada uang lembur. Jadi ya dianggap sukarela
    apalagi kalau di pabrik yang mana tekanannya lebih besar dibanding mereka yang duduk dibagian kantor, tenaga pabrik udah pasti lebih cepet capek dan pastinya uang lembur yang diharapkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul perlu ditanya Mba diawal bergabung bagaimana sistem lemburnya? dibayarkan atau tidak

      Hapus
  7. Thanks banget sudah menjelaskan mengenai pentingnya Surat Perintah Kerja Lembur (SPKL) sesuai Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. KEP-102/MEN/VI/2004. Memang penting sih bagi kita2 yg karyawan ini utk paham kalau lembur tanpa instruksi resmi mungkin tidak mendapatkan kompensasi yang layak. Selain itu, penyediaan makanan dan minuman bergizi bagi yang lembur lebih dari 3 jam menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan pekerja. Makanya harus ada instruksi resmi ya, karena bisa saja kita yang memang ngelembur karena kita yang kurang bisa mengatur waktu atau lemburnya ya tidak sampai 3 jam lebih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mba wajib dipenuhi semua haknya ga hanya uang lemburannya tapi ke kalorinya :)

      Hapus
  8. Terkait lembur setiap kali interview kerja selalu aku make sure di awal sih. Berhubung posisi ku nggak jauh-jauh dari digital marketing, web administrator, socmed spesialist jadinya udah bisa ketebak pasti ada kerjaan di luar jam kerja yang dianggapnya hanya loyalitas saja 😆. Jadi hampir nggak pernah ngerasain dapat lemburan sih, meski kadang jam 8 malam masih beresin EP dkk karena enggan kalau menumpuk kerjaan. Begitulah dunia kerja ada rules nya memang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes yg penting sehat dan berbahagia ya mba walau QERJA QERAS BAGAI QUDA :p

      Hapus
  9. Memang kalau kerja kita harus tanya detail kontrak di awal, tentang leburan tentang cuti dan kawan-kawan, karena beberapa perusahaan menerapkan aturan yang berbeda-beda. Kantor suami saya contohnya menerapkan sistem all in, jadi mau lembur nggak lembur, mau masuk hari libur pun gaji tetap sama. Ini sedikit merugikan kalau dia lagi dinas keluar kota yang mana terkadang tak ada hari libur sama sekali tapi terkadang juga menguntungkan kalau terjadi maslaah semacam Covid 19 kemarin karena meski WFH tetap digaji penuh. Kalau aku dulu kerja di garmen itu aturannya jelas banget bahkan diberitahu itungan lemburnya, ada lembur wajib dan ada lembur karyawan, tapi masing-masing departemen berbeda ternyata. Ada yang kalau lembur harus dapat ijin dulu atau acc atasan baru terhitung, tapi untungnya di departemenku enggak, kita bisa lembur sesuai kebutuhan dan akan dihitung otomatis dari absensi keluar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah untuk hitungan all in kyk gitu emang ada perusahaan yg nerapin gitu mba, tp tempatku saat ini berlaku untuk yg spv keatas klo All in..

      Hapus
  10. Ada beberapa profesi yg hampir saban hari lembuuurrr, tapi ngga ada uang lemburan sama sekali dari kantor. Salah satunya jadi reporter.
    aduuhh, serba salah sih.
    mau protes tapi yha gimanaaa aturannya sedari awal.kyk begitu.

    BalasHapus
  11. Jadi teringat sebuah pesan agar membayar upah yang sesuai dan segera membayarnya jika pekerjaannya telah selesai, jangan sampai peluhnya kering apalagi sampai dipersulit, duh jangan sampai la ya. Saat covid melanda saya pernah menerima gaji hanya 50% padahal kerja full, duh sakit tapi ya daripada tidak ada gaji

    BalasHapus
  12. Daku pernah bekerja di perusahaan yang kalo lembur harus ada SPL, tapi pernah juga bekerja di kantor yang gak pakai SPL keluar lemburannya karena melihat dari jam pulang kerja. Mungkin tergantung kantornya, jadinya kebijakannya kayak apa. Sebisa mungkin karyawannya yang kudu tahu haknya itu seperti apa

    BalasHapus
  13. Hai mbak, menarik nih ngomongin tentang lembur. Sama dengan mbak Herva, di tempat kerjaku juga yg berhak dapet lembur hanya grade tertentu, dari yg paling bawah. Dulu aku semangat untuk lembur, karena dapat upah lembur ini, tapi bukan sengaja dilama-lamain kerjanya. Intinya klo kerjaan overload, aku semangat lembur.

    Tp setelah naik grade dan gak dapat lembur, aku berubah jadi itung2an kalo kerja. Saat kerjaan belum beres, aku tinggalin aja untuk dikerjakan besok lagi, pokoknya pantang lembur deh, kecuali kalo urgent banget. Baca tulisan ini jadi mikir, apakah ini mental kerja yg salah? wkwkwk

    BalasHapus
  14. Aturan yang jelas sejak karyawan masuk gini, enak banget.
    Aku dulu gak pernah lembur. Karena uda pasti anaknya tenk-go!
    Alias jam pulang tenk, GO!
    Hahaha.. ogah banget di kantor lama-lama. Kecuali memang ada tugas yang kudu aku selesein karena kelalaian aku. Nah, itu mah kesadaran aja yaa..

    Pernah males?
    Pernah banget. Hihihi.. tapi pas laporan, bilang aja uda dengan alasan yang dikarang-karang.
    Wkwkkwk... Alergi banget yang namanya kerja di luar jam kerja.

    BalasHapus
  15. Kalau saya sih tergantung apa yang ada di SPK
    tapi namanya juga klo kantor mewajibkan lembur, ya pastinya harus dibayar
    Dunia kerja itu dunia profesional

    BalasHapus
  16. Kalau saya sih tergantung apa yang ada di SPK
    tapi namanya juga klo kantor mewajibkan lembur, ya pastinya harus dibayar
    Dunia kerja itu dunia profesional

    BalasHapus
  17. Kasihan banget ya udah lembur tapi nggak dibayarkan perusahan, ternyata Jono lembur itu karena inisiatif bukan karena aturan perusahaan yang mengharuskan lembur. Memang harusnya ada batasan yang jelas mengenai aturan dan karyawan pungarusnya udah paham sih biar nggak ada kejadian kaya gini

    BalasHapus
  18. Kasihan banget ya udah lembur tapi nggak dibayarkan perusahan, ternyata Jono lembur itu karena inisiatif bukan karena aturan perusahaan yang mengharuskan lembur. Memang harusnya ada batasan yang jelas mengenai aturan dan karyawan pungarusnya udah paham sih biar nggak ada kejadian kaya gini

    BalasHapus
  19. Aku dulu tuh lumayan workaholic mbak. Bisa kerja sampe tengah malem, dan paginya sudah standby di kantor lagi. Tapi yaa itu dulu, selagi masih muda dan penuh impian darah muda. Kalo sekarang mah, udah mulai cari titik balance sih. Hidup ga selalu tentang kerja, karena diluar kantor pun kita harus bisa banyak bersosialisasi. Apalagi modelan kayak Joni yang gak dibayar, heuheu.. mending gak usah!

    BalasHapus
  20. Nah, aku sering protes sama PakSu nih ngapain sampai lembur kalau gak dapat gaji tambahan? Tapi ya benar masalah profesionalitas juga sih. Soalnya paksu ini memang di aturan dia memang gak dapat gaji lembur cuma kalau ada masalah di pabrik mau gak mau dia harus turun tangan.

    BalasHapus
  21. Yang punya kerja dan harus lembur mengeluh yang gak punya lerjapun mengeluh... begitulah aku.. dulu kerja dan harus lembur apalagi harj merah orang libur aku masuk merasa sedih tapi sekrang aku tetep sedih karena nuari kerja lagi susah huhu.. bersyukur dalam keadaan apapun sebenernya harusnya yaa

    BalasHapus
  22. Sebagian orang yang gak pernah kerja kantoran atau pabrik, saya jadi mendapatkan pengetahuan dan pemahaman baru terkait lembur ini. Ternyata ada juga ya lembur yg tidak dibayar. Kirain semua dibayar terlepas dari permainan mandor atau pemberi upah

    BalasHapus

Posting Komentar

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun